RELAY
1. Pengertian
Relay
Pengertian
relay adalah salah satu komponen elektronika yang berbentuk seperti saklar dan
dioperasikan menggunakan listrik. Komponen ini terdiri dari dua bagian, yaitu
elektromagnet (coil) dan mekanikal (switch). Dalam pengoperasiannya, relay
memanfaatkan prinsip elektromagnetik untuk menggerakkan saklar dan menghantarkan
arus listrik.
Dalam
dunia elektronika, relay dikenal sebagai komponen yang dapat mengimplementasikan
logika switching. Sebelum tahun 70an, relay merupakan “otak” dari rangkaian
pengendali. Baru setelah itu muncul PLC yang mulai menggantikan posisi relay.
Relay
yang paling sederhana ialah relay elektromekanis yang memberikan pergerakan
mekanis saat mendapatkan energi listrik. Secara sederhana relay elektromekanis
ini didefinisikan sebagai berikut :
a. Alat
yang menggunakan gaya elektromagnetik untuk menutup (atau membuka) kontak
saklar.
b. Saklar
yang digerakkan (secara mekanis) oleh daya/energi listrik.
Di bawah ini contoh
relay yang beredar di pasaran:
Gambar 1a. Relay di pasaran
Sumber gambar : Istock Photos
Gambar 1b. Relay di pasaran
Sumber : Handy Wicaksono - Catatan Kuliah ”Automasi
1”
Fungsi Relay dalam Dunia Industri
a. Pengendali
Arus Listrik pada Kendaraan: Relay digunakan dalam kendaraan bermotor untuk
mengendalikan arus yang besar dengan memanfaatkan arus kecil, seperti pada
starter mobil dan sepeda motor.
b. Pengontrol
Panel Listrik: Relay juga digunakan dalam panel listrik untuk mengendalikan
kontaktor dengan kapasitas listrik besar.
c. Perantara
Kontaktor PLC: PLC tidak bisa mengendalikan kontaktor secara langsung, sehingga
memerlukan relay sebagai perantara karena batasan kapasitas PLC.
d. Perlindungan
Kelistrikan Klakson: Relay digunakan untuk melindungi kelistrikan klakson pada
kendaraan agar tidak menyebabkan kerusakan.
e. Pengontrol
Motor AC: Relay digunakan untuk mengontrol motor kompresor, kipas, dan pompa
pendingin.
f. Sistem
Kontrol Digital: Relay digunakan dalam sistem kontrol digital untuk beradaptasi
dengan sinyal tingkat rendah, sensitivitas sedang, dan tindakan switching yang
cepat. Secara umum, relay digunakan untuk memenuhi fungsi – fungsi berikut :
➢
Remote control : dapat menyalakan atau mematikan alat dari jarak jauh
➢ Penguatan daya : menguatkan arus atau
tegangan, Contohnya starting relay pada mesin mobil
➢
Pengatur logika kontrol suatu sistem
2.
Jenis-jenis
Relay berdasarkan Ketetapan Nasional
a.
Single Pole Double Throw (SPDT
Relay): Memiliki 5 terminal, dengan 3 terminal sebagai saklar dan 2 terminal
sebagai coil.

Gambar 2 Relay jenis Single Pole
Double Throw (SPDT)
Sumber : Kilian, Christopher T,
Modern Control Technology,
(West Publishing Co : 1996)
b. Single
Pole Single Throw (SPST Relay): Memiliki 4 terminal, dengan 2 terminal sebagai
saklar dan 2 terminal sebagai coil.
c.
Double Pole Double Throw (DPDT
Relay): Memiliki 8 terminal, dengan 6 terminal sebagai 3 pasang terminal yang
dikontrol oleh coil dan 2 terminal sebagai coil.
Gambar 3. Timer Relay
Sumber : Handy Wicaksono - Catatan
Kuliah ”Automasi 1
d. Double
Pole Single Throw (DPST Relay): Memiliki 6 terminal, dengan 4 terminal digabung
menjadi 2 terminal dan 2 terminal sebagai coil.
Prinsip Kerja Relay:
Relay terdiri dari empat komponen dasar yaitu elektromagnet (coil), armature,
switch contact point (saklar), dan spring. Saklar pada relay dapat berupa
normally closed (NC) atau normally open (NO), bergantung pada kondisi awal
sebelum diaktifkan.
3.
Cara
Kerja Relay
Relay
terdiri dari coil dan contact. Perhatikan gambar di bawah gambar 4, coil adalah
gulungan kawat yang mendapat arus listrik, sedang contact adalah sejenis saklar
yang pergerakannya tergantung dari ada tidaknya arus listrik di coil. Contact
ada 2 jenis : Normally Open (kondisi awal sebelum diaktifkan open), dan
Normally Closed (kondisi awal sebelum diaktifkan close). Secara sederhana
berikut ini prinsip kerja dari relay : ketika Coil mendapat energy listrik
(energized), akan timbul gaya elektromagnet yang akan menarik armature yang
berpegas, dan contact akan menutup.
Gambar 4. Skema
relay elektromekanik
Sumber : Handy
Wicaksono - Catatan Kuliah ”Automasi 1”
Ketika
kumparan elektromagnetik dalam relay mendapatkan aliran listrik, akan muncul
medan magnet yang menarik tuas armature sehingga mengubah posisi kontak switch
dari NC menjadi Open dan begitu pula untuk kontak NC berubah menjadi open.
4. Timer Relay
Timing
relay adalah jenis relay yang khusus. Cara kerjanya ialah sebagai berikut : jka
coil dari timing relay ON, maka beberapa detik kemudian, baru contact relay
akan ON atau OFF (sesuai jenis NO/NC contact). Simbol daritiming relay bisa
dilihat pada gambar 6 Sedang latching relay ialah jenis relay digunakan untuk
latching atau mempertahankan kondisi aktif input sekalipun input sebenarnya
sudah mati. Cara kerjanya ialah sebagai berikut: jika latch coil diaktifkan, ia
tidak akan bisa dimatikan kecuali unlatch coil diaktifkan. Simbol dari latching
relay bisa dilihat pada gambar:
Gambar 5. Timer
Relay
Sumber : Handy
Wicaksono - Catatan Kuliah ”Automasi 1
Gambar 6. Timer
Relay
Sumber : Handy
Wicaksono - Catatan Kuliah ”Automasi 1
5.
Kelebihan Relay
Relay
memiliki kelebihan karena coil dan kontak relay terpisah sehingga tidak saling
terpengaruh. Dengan tegangan 5 Volt DC dan arus kecil, relay dapat mengontrol
lampu 220 Volt 400 Watt.
6.
Kontrol Relay
logic
Logika
Kontak pada relay yang ada di pasaran Terdapat 3 logika dasar saat melakukan
pemrograman dengan kontak.
a.
Logika
Not (Tidak Sama Dengan)
Logika NOT pada
kontak dapat diartikan sebagai logika pemutus, umumnya dengan menggunakan
kontak NC. Saat tidak diaktifkan (False), kontak berperan menyambungkan aliran,
tetapi saat ditekan (True) maka berperan memutuskan aliran arus.

Gambar 7 Logika
Not
Perhatikan
gambar di atas. Sebelum kontak A ditekan, output sudah menyala. Namun
sebaliknya saat kontak A ditekan, output akan mati. Logika ini disebut dengan
TIDAK atau NOT Logic. Logika ini sering digunakan untuk memutus aliran arus
listrik atau digunakan sebagai instruksi OFF.
b.
Logika
OR (Atau)
Logika
OR dapat diartikan sebagai logika alternatif, yaitu pilihan untuk dapat menyambungkan
sebuah aliran arus dengan melalui salah satu kontak. Dengan demikian,
mengaktifkan salah satu saja dari kontak A atau kontak B atau keduanya secara
bersamaan akan dapat menyalakan Output.
Gambar 8 Logika
Or
Contoh
penerapan logika ini adalah pada pengoperasian lampu dari beberapa titik.
Lampudapat diaktifkan dari beberapa tempat dengan menggunakan beberapa tombol
berbeda dengan cara menyambung secara paralel kontak tombol – tombol tersebut.
c. Logika AND (Dan)
Logika
AND dapat diartikan sebagai logika syarat, yaitu kombinasi 2 kontak atau lebih
yang hanya bisa menyambungkan aliran arus apabila kedua - duanya diaktifkan
dalam waktu yang bersamaan. Kontak – kontak tersebut tidak dapat menyambungkan
apabila hanya salah satu yang ditekan.

Gambar 9 Logika And